RSS

Cerita Gila 1

Chemistry Singkat Pelajar Kocak
Asiiikkk naik kereta !!” Teman gw, Riri, menulis status di fb.
Hari itu gw dan teman-teman sedang menunggu kereta  untuk  berangkat ke UI. Sial banget kita nunggu lama. Kita ke stasiun pukul 11.00 WIB. Gak taunya kereta jurusan Jakarta baru ada pukul 12.30 WIB. Sambil menunggu loket dibuka, gw serta 4 temen gw langsung memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar. Apa? Belajar? Ckckck. Namun karena lapar, gw dan Riri memilih keluar stasiun untuk mengisi perut dulu. Sedangkan Aldilah, Lina, dan Irene sibuk membuka-buka buku. Tapi entah benar belajar atau hanya sekedar bergaya anak kuliahan.
Setelah gw dan Riri selesai makan, gw kembali ke kediaman 3 teman gw. Terlihat dikejauhan Aldilah dan Lina sedang membaca buku latihan yang dipegangnya. Sedangkan Irene? Dia sedang tidur terlentang dengan kepala diatas ranselnya. Seperti bos yang sedang santai, kedua tangannya dilipat dan telapak tangannya ia pakai untuk membentuk sebuah bantalan. Semua orang di stasiun itu tidak jarang melirik-lirik kelakuan teman gw yang satu itu. Teman gw yang lain hanya tertawa dan pasrah melihat kelakuan Irene. Tertawa karena lucu, dan pasrah karena mereka otomatis jadi korban tontonan orang-orang yang ada di stasiun.
“Hahaha. Irene nanaonan sih? Kayak gembel aja. Diliatin banyak orang tuh.” Kritik Riri dengan muka polosnya. Gw dan ketiga teman gw hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka.
Aldilah dan Lina langsung mengantri membeli tiket karena loket pun sudah dibuka. Dan kami pun naik kereta.
Ternyata kehidupan didalam kereta tidak seasik yang dibayangkan Riri. Riri pun menyesal telah menulis status tersebut di fb. Sangat tidak nyaman. Apalagi waktu kami sudah ingin turun. Gw nyaksiin sendiri seorang copet sedang meraba-raba saku korban. Gw yang tidak tau apa-apa lebih memilih diam. Terlalu mengerikan kalo gw bilang copet.
Kami pun turun dari kereta. Namun kami harus naik kereta sekali lagi untuk sampai di stasiun UI. Kereta kali ini lebih nyaman dibanding kereta yang tadi. Kami bisa canda tawa di dalam kereta tersebut. Tidak terasa kami pun sampai di stasiun UI.
Pukul 16.00 WIB. Suasana di stasiun UI sangat berbeda dibandingkan stasiun lainnya. Maklum, kebanyakan mahasiswa. Sangat terlihat terpelajarnya.
“Naik kereta gak enak ya?” Riri kembali mengingat keadaan kereta sebelumnya.
Kami yang mendengar pertanyaan aneh itu lagi-lagi hanya bisa tertawa. Dan kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke kawasan UI.
“Wah seger banget.” Puji Irene saat sampai di kawasan UI.
“Kita naik apa nih? Bus kuning mana bus kuning?” Tanya gw karena ingin cepat-cepat untuk naik bus kuning.
“Bus kuning cuma ada di jam kuliah doang, Ndri. Kalo hari sabtu paling lambat Cuma sampe jam 2 doang.” Jelas Lina.
“Terus kali ini dan besok kita harus jalan gitu?” Tanya Irene tak percaya.
Ya, kawasan UI sangat luas. Dan kami tidak mungkin harus mengelilinginya dengan hanya berjalan kaki. Namun untuk saat ini mau tidak mau kami harus berjalan kaki.
Sebelum kami melanjutkan perjalanan ke fakultas MIPA, fakultas tujuan kami, kami berhenti di masjid untuk sekedar solat ashar.
“Wow, masjidnya bagus banget !!” Puji gw karena saking kagumnya.
Bangunan masjid itu memang sangat indah. Dengan danau disampingnya, seakan-akan kami sedang terapung diatas danau. Suasana seperti itu sangat membuat sekitar masjid jadi terasa sejuk. Kami langsung cuci muka dan ambil wudhu.
“Ndri, dimana ini sholatnya?” Tanya Riri setelah selesai berwudhu.
“Udah disitu aja !” Gw menunjuk arah Riri berdiri, dimana tempat itu sebenernya hanya teras masjid yang disampingnya terlihat langsung pemandangan diatas danau. Kebetulan tempat itu juga tepat didepan tempat wudhu.
Tanpa tanya lagi Riri pun langsung sholat ditempat itu.
Setelah gw nunggu Aldilah, akhirnya Aldilah selesai juga berwudhu.
“Kita sholat dimana?” Tanya gw pada Aldilah dan Lina.
“Di dalam masjid aja.” Jelas Aldilah sambil bergegas masuk ke dalam masjid.
Riri yang telah selesai sholat hanya terbengong-bengong melihat gw, Aldilah, dan Lina akan masuk kedalam Masjid. Setelah itu Irene tertawa puas melihat Riri telah salah karena dia sholat di teras masjid. Saat itu juga kami semua tertawa melihat Riri berlaku malu seperti itu. Hahaha.
Gw, Aldilah, serta Lina pun masuk kedalam masjid. Disekitar masjid itu banyak sekali mahasiswa UI yang sibuk dengan laptopnya masing-masing. Kami langsung menyimpulkan bahwa Wi-Fi di masjid ini sangat lancar.
Saat masuk kedalam masjid, gw tambah kagum saja sama masjid ini. Bangunan di dalamnnya tidak kalah indah dengan bangunan yang ada diluar masjid. Dekorasi-dekorasinya sangat banyak dan indah pula. Disaat gw dan Aldilah menunggu Lina sholat, gw sama Aldilah malah sibuk foto-foto didalam masjid tersebut.
Kami pun selesai sholat dan mulai melanjutkan perjalanan ke fakultas tujuan kami. Tidak jarang kami bertanya-tanya pada mahasiswa UI dimana letak fakultas tujuan kami. Ternyata masih agak jauh. Kami terus melangkah menikmati perjalanan tersebut.
“Capek!” kami bergantian berbicara seperti itu. Hanya Lina dan Aldilah saja yang tidak mengeluh.
“Kita harus biasain jalan cepet. Ayo kita adu jalan cepet!” Tantang Aldilah kepada kami. Dan gw pun mengikuti langkahnya.
Tanpa terasa kami pun sampai di fakultas MIPA. Sore itu terlihat Panitia Pelaksana Try Out sedang sibuk mempersiapkan persiapan untuk besok. Hampir magrib kami berdiam didepan fakultas tersebut. Seringkali kami pun berfoto-foto. Sayang juga kalo kami melewati kesempatan untuk foto-foto ini. mumpung sepi, karena kalau besok, pasti akan ramai dengan murid-murid lain. gengsi dong kita
Setelah kami puas berfoto-foto, akhirnya kami setuju untuk pulang kerumah tantenya Irene. dimana kami akan menumpang nginap malamnya.Tapi setelah kami sadar bahwa kami harus balik lagi, berjalan jauh untuk ke Margonda, jalan raya untuk menaik angkot, kami pun langsung lesu. Serem juga berjalan maghrib-maghrib melewati jalan setapak di kawasan UI.
Setelah kami bersusah payah ke Margonda sampai nyasar-nyasar di kawasan UI, akhirnya kami sampai juga di Margonda. Kami pun langsung naik angkot.
Cukup jauh perjalanan dari UI kerumah tantenya Irene. Kami harus naik angkot 2 kali.
Pukul 20.30 WIB akhirnya kami sampai dirumah tantenya Irene. Sayangnya tantenya Irene belum pulang. Hanya ada om nya Irene. Gw langsung bergegas mandi karena kebetulan gw udah daftar untuk mandi yang pertama kalinya. Daftar? Hehe.
*****
                “Wih, suegerrrrnya gw udah mandi.” Pamer gw ke temen-temen gw yang belum pada mandi.
Aldilah langsung bergegas mandi setelah gw selesei. Saat Aldilah selesei, Lina ngajak gw untuk cari makan. Gw yang saat itu sedang kelaparan pun langsung menyetujui ajakan Lina. Tapi melihat gw dan Lina akan pergi, seperti anak kecil Riri pun merengek minta ikut.
Sebelum kedepan perumahan tantenya Irene, kami diajak muter-muter kerumah saudara-saudara Irene yang juga tinggal di daerah itu. Kami tak kuasa menahan tawa saat Irene mengucapkan salam pada saudara-saudaranya. Gaya bataknya keluar.
Alhamdulillah dirumah neneknya Irene, kami malah disuruh makan. Sangat kebetulan banget. Tanpa canggung-canggung kami pun langsung duduk dan mengambil makanan di meja makan.
Setelah kami kenyang karena perut kami sudah diisi, kami pun pergi. SMP banget deh kami, Sudah Makan Pulang. Kami berjalan kedepan perumahan karena ingin jajan ke Alfamart. Kehidupan di Jakarta sangat ramai. Apalagi ditambah kalo saat itu malam minggu.
Setelah selesai jajan, kami bergegas pulang. Lina langsung mandi.
Setelah Lina mandi, seharusnya giliran Riri yang mandi. Tetapi karena sudah semakin malam, dia tidak berani mandi sendiri. Akhirnya dia mandi berdua dengan Irene.
*****
                Pukul 22.00 WIB, tantenya Irene pulang. Dan saat itu juga tantenya Irene membuatkan kami makan. Kami pun menongkrong di teras rumah tantenya Irene. Sambil menunggu makanan matang, Aldilah sibuk menghitung hutang-hutang transportasi kami berlima. Tapi, keluarga tante Irene malah menganggap kami sedang sibuk belajar untuk besok.
Akhirnya makanan matang. Padahal kami baru saja makan dirumah neneknya Irene, namun tetap saja masih bisa melahap masakan tantenya Irene. Seperti tak ada kenyangnya kami menikmati masakan tantenya Irene.
Sesudah kami makan, kami tetap menongkrong di teras walaupun hanya sekedar mengobrol dengan mereka berlima.
Tuuuuttt” Suara kentut Aldilah.
Riri langsung terbahak-bahak mendengarnya. Gw pun yang ada disitu langsung terbahak-bahak melihat Riri tertawa.
Jam menunjukkan bahwa hari semakin malam. Kami pun kekamar dan tidur berlima dalam satu kasur.
Kami rebutan lampu. Karena sebagian ingin lampu dimatikan, sebagian lagi ingin lampu tetap dinyalakan.
“Lampu matiin dong, gw ga bisa tidur nih silau banget!” Pinta gw ke temen-temen gw.
“Ih jangan dong, gw takut.” Sangkal Aldilah.
“Ih kita kan berlima ngapain takut? Udah matiin aja” Pinta Lina juga.
Gw langsung matiin lampunya. Tak berapa lama kemudian tantenya Irene membuka pintu kamar.
“Kok tidurnya sempit-sempitan gini? Sebagian dikamar sebelah aja!” Bujuk tantenya Irene.
“Gapapa kok tante disini aja” Sanggah Lina karena tidak enak.
“Bukan gitu, nanti kasurnya jebol ditidurin berlima gini” Tantenya Irene menyadarkan kami.
“Eh iya juga ya. Iya deh tante” Kami terbahak-bahak karena kami pikir tantenya Irene mengkhawatirkan kami, gak taunya hanya kasurnya yang di khwatirkan.
Lina dan Irene yang memilih pindah kekamar sebelah. Gw, Riri, dan Aldilah tetap di kamar itu. Tak berapa lama kemudian Aldilah bilang mau melihat keadaan kamar sebelah. Gak taunya dia malah pindah kekamar sebelah. Jadilah tinggal gw dan Riri yang tidur dikamar itu.
Bukannya tidur, Riri malah twitteran. Dia senang sekali karena mentionannya di bales Mu’un, mantan yang sampai sekarang masih dia suka. Gw semakin tidak bisa tidur karena Irene, Aldilah, dan Lina bolak-balik sms menakut-nakuti gw dan Riri. Tapi gak gw hiraukann, gw langsung tidur. Setengah gw tertidur, terasa Riri bangun dari kasur.
“ii mau kemana?” Setengah sadar gw nanya Riri.
“Mau ngecas, Ndri.” Seperti maling yang tertangkap basah dia menjawab pertanyaan gw sampai-sampai ada sesuatu yang terjatuh karena tersenggol Riri.
Riri pun kembali ke kasur dan gw tertidur lagi.
*****
Pukul 03.00 WIB. Irene masuk ke kamar gw dan menyalakan lampu. Gw yang sensitif banget sama lampu, langsung terbangun.
“Kenapa, Ren?” Tanya gw dengan mata tetap tertutup.
“Kalian belum bangun? Udah jam 3 nih.” Jelas Irene.
“Hah?” Gw gak percaya karena sial banget gw belum pasang alarm sebelum gw tidur.
“Ada yang mau mandi duluan?” Tanya Irene.
“Gw, Ren. Gw!” Gw jawab pertanyaan Irene dengan masih setengah sadar. Efek kegerahan juga kayanya jadi gw langsung terima tawaran Irene untuk mandi duluan.
Saat itu juga gw bangun dan langsung mandi. Gw gak kepikiran rasa takut sama sekali jam 3 sudah berani mandi.
Setelah gw selesai, bergantian temen-temen gw untuk mandi. Semua temen-temen gw kumpul dikamar sebelah. Gw langsung kekamar itu setelah gw selesei berapih-rapih.
Gw menyorak Aldilah karena dia telah pindah kamar. Disitu juga Riri mengaku bahwa sebenarnya waktu semalam dia bangun dari kasur, dia mau pindah kekamar sebelah. Waktu itu juga gw langsung ingin memarahi Riri. Sedangkan teman-teman gw malah tertawa.
Setelah kami semua selesai mandi, kami sarapan. Pukul 04.30 WIB kami sudah siap akan berangkat. Tetapi tidak dibolehkan oleh tantenya Irene karena masih terlalu pagi. Kami langsung bergiliran sholat subuh sambil menunggu hari sampai cerah.
Pukul 05.30 kami baru berangkat. Sempat nyasar karena terlihat beda sekali jalan raya pada waktu malam hari dan pagi hari.
Sesampainya di UI, kami bergegas berjalan cepat untuk sampai ke fakultas MIPA.
“Capek. Indri ini minum lu bawa!” Dengan posisi paling belakang, Riri teriak memanggil gw karena dia membawa sebotol minuman gw.
Seperti tidak mendengar apa-apa, gw terus jalan dan tidak menengok ke belakang. Bawaan gw udah terlalu banyak. Tangan gw dua-duanya penuh dengan barang-barang kami. Seperti papan, cemilan, serta buku-buku Irene.
“Woy ini gantian!” Teriak Riri lagi karena tidak ada yang mendengarkannya.
Langkah kami semakin cepat dan tidak menghiraukan Riri.
“Woy, kayak tai banget sih lu pada. Gw tinggalin aja minumannya disini” Riri marah-marah karena dia sadar dari tadi tidak ada yang mendengarkan dia bicara.
Seperti tidak terjadi apa-apa, kami semakin melangkah cepat. Tidak peduli apa yang dikatakan Riri. Dan kami tidak sedikit pun menoleh ke belakang. Fokus pada jalanan di depan.
Setelah sekian lama kita berjalan kaki, akhirnya sampai juga di fakultas MIPA.
“Huuffftt” Suara nafas kami karena saking capeknya.
Terlihat anak-anak Jakarta sudah berkumpul sangat nyaman dan tenang. Sedangkan kami? Kami menoleh ke arah Riri. Astagfirullah. Kasihan sekali temen gw yang satu ini. Dalam kerumunan anak-anak Jakarta yang cool abis, Riri tampil dengan gaya seperti habis olahraga. Keringat dimana-mana membasahi tubuhnya. Dia terus-terusan mengelap keringat dengan tisu.
“Ini tisunya dibuang dimana? Sampah basah atau kering?” Tanya Riri kepada kami karena dia bingung akan membuang sampah pada tempat sampah kering atau basah.
“Yaampun ii, ya sampah kering lah” Irene menjawab dengan agak tidak selow.
“Tapi kan tisu ini udah basah buat ngelap keringat gw” Dengan muka polosnya Riri menjelaskan seperti itu dan membuat kami kembali terbahak-bahak.
“Minum mana minum? Haus gw” Gw cari-cari minum gw.
“Udah gw tinggalin tadi di semak-semak” Riri jawab dengan santai dan tampang polos wajah tanpa dosa.
Gw serta 3 temen gw terbengong-bengong mendengar ucapan Riri. Gw kira omongan dia yang tadi hanya bercanda , ternyata dia beneran ninggalin minuman gw. Untung temen-temen gw baik-baik dan menawarkan gw minum.
*****
                Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 WIB. Seperti yang di janjikan, Try Out akan dimulai pada jam tersebut. Semua peserta try out langsung dibariskan sebelum memasuki ruang try out.
Saat kami dibariskan tak jarang mata gw melihat-lihat orang-orang sekitar gw. Agak ngedown juga gw melihat ada seseorang yang menggunakan tas olimpiade sains. Sepertinya orang itu pintar. Tak jarang pula kami berbisik-bisik sehabis melihat mereka.
“Ndri, sebelah lu kayanya pinter. Liat tuh bacaannya. Rumus semua booo” Aldilah berbisik kepadaku sambil mengawasi seorang anak laki-laki berkacamata disebelahku.
Buset deh. Sepertinya peserta-peserta disini memiliki persiapan yang matang untuk mengikuti try out ini. Sedangkan kami? Boro-boro belajar. Semalam sekalinya buka buku malah untuk menghitung hutang-hutang kami.
*****
                Saat mengerjakan, mungkin kami berlima adalah peserta yang paling berisik. Sepertinya memang bawaan sifat kami disetiap ulangan. Selalu aja kerjasama dimana pun kami berada. Apalagi Riri. Dengan gesit dan telitinya, dia menyalin jawaban peserta lain tanpa diketahui peserta lain tersebut. Tetapi mengingat penghitungan try out ini menggunakan minus jika salah, gw tidak sepenuhnya mengikuti jawaban Riri.
Bosan banget gw diruangan itu dengan terus-terusan melihat lembaran soal. Tidak seperti anak-anak aggresist Ipa 1 yang kapan pun walau sedang mengerjakan ulangan sekali pun pasti selalu aja ada gerak-gerik yang mencurigakan. Peserta try out di UI ini beda. Semuanya tertib tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sunyi dan sepi. Sunyi. Sangat-sangat sunyi.
lalu tiba-tiba…
Tut” Suara angin khas Aldilah tidak sengaja muncul ditengah-tengah kesunyian.
Seperti dikagetkan atau apa, Aldilah, gw, Riri, serta peserta yang pas-pasan duduk disebelah Aldilah, serentak terkejut. Gw yang tahu suara kentut itu berasal dari Aldilah tidak langsung tertawa. Gw jaim sampai peserta yang disebelah Aldilah sadar kalo tadi bukan suara apa-apa. Setelah peserta tersebut sudah tidak menghiraukan, Riri menoleh ke arah gw dan Aldilah. Seperti tidak ada apa-apa, gw meyakinkan Riri kalo gw dan Aldilah tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Setelah semua peserta sudah lelah karena soal, barulah ruangan itu ramai. Dan setelah Riri kembali menoleh, gw memberi kode bahwa suara yang tadi adalah suara kentut Aldilah. Gw dan Riri langsung terbahak-bahak tertawa lepas menertawakan Aldilah. Sedangkan Aldilah? Watados.
Kali ini adalah kedua kalinya Aldilah memasang muka watados setelah dia menggunakan toilet pria untuk membuang air kecil. Saat itu kami sedang kebelet sekali ingin membuang air kecil. Karena di toilet cewek harus mengantri, tidak tanggung-tanggung Aldilah nekat masuk menggunakan toilet pria.
“Ka !! kaka, eh hey !! hey, jangan masuk !! aduh, jangan masuk, ada teman saya didalam !!” Larang Irene dengan terbata-bata kepada segelintir anak-anak cowok yang juga ingin membuang air kecil.
“Temen kamu cewek atau cowok?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Cewek” Irene menjawab dengan tampang malu karena menanggung dosa Aldilah yang sudah menyalahgunakan toilet cowok.
“Astagfirullah” Dengan berbarengan cowok-cowok tersebut beristigfar.
Bersambung… nantikan cerita selanjutnya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar